Thursday, 8 September 2016

CERPEN - TIDAK SESUAI DUGAAN TIDAK SESUAI RENCANA



 Tidak Sesuai Dugaan Tidak Sesuai Rencana

Aku sedang menulis dikertas ini. Seiring dengan datangnya angin dan rintikan hujan yang indah dan menenangkan.
Aku memulai satu menit pertama dengan melihat ke arah sekolahku yang luas. Melihat betapa indahnya semua ciptaan tuhan dan nyamannya angin dan rintikan hujan datang. Dengungan ditelingaku yang awalnya sangat mengganggu lambat laun menjadi tidak terdengar lagi.
Aku terasa tuli seketika, tidak dapat mendengar suara orang-orang yang ada disekitarku dan hanya sejuknya siang dengan angin dan rintikan hujan bersamaku. Dengan memejamkan mata seolah-olah buta, merasakan angin yang menggerakkan dedaunan dan rintikan hujan yang mengalun dengan indahnya. Perasaan nyaman dan tenang ini membuatku mengingatnya, lalu tersenyum. Seakan aku ingin meneteskan air mata, namun aku sedang bahagia.
Dimenit kedua, aku membuka mata dan berjalan menuju kebawah, ingin merasakan angin ini lebih lama lagi. Pikirku.
Aku pergi menelusuri halaman depan sekolah, melihat parkir yang diisi dengan mobil mobil dengan pohon disetiap selingannya. Aku melihat mobil biru, yang dulunya aku akan langsung berlari mencari pemiliknya, karena rasa senangku akan kehadirannya sebagai seorang inspirasi dikehidupan sma-ku. Namun sayang, hari ini aku tidak merasakan perasaan yang sama. Aku yang terabaikan dan tergeser, tidak dapat lagi memikirkan dan merasakan perasaan yang sama. Sebagai seseorang yang penting dan aku tau, aku tidak selamanya dapat merasakan kepercayaan orang-orang dan aku sadar, aku tidak boleh berharap.
Dan dimenit ketiga, aku berada tepat didepan gerbang besar sekolahku. Aku mengingat kejadian dimana seseorang mulai menjadi penting dikehidupan sma-ku. Disaat ini, ia masih menjadi sesuatu yang penting itu. Namun, karena hanya aku dan aku pun tak mendapat sesuatu yang lebih, hanya sesesuatu yang dinamakan perasaan, yang aku pun tidak tahu sampai kapan akan berakhir.
Akhirnya, aku tiba dikantin sekedar untuk membeli minuman dingin untuk melegakan dahaga. Berhenti sejenak memikirkan masa lalu yang cukup berwarna. Ya, cukup berwarna dengan didominasi oleh hitam dan putih. Walaupun begitu, aku masih tersenyum.
Dalam perjalanan kembali menuju kelas, aku kembali melihat kedepan dan berpikir “Apa yang aku pikirkan darinya?”. Padahal, aku sedang memikirkan kebinasaan dalam suatu ikatan, namun aku tetap tersenyum.
Aku takut, aku takut memikirkan akhir dari kisah ini. Ketakutan menguasaiku. Karena, ia benar-benar terlihat melihatku dengan biasa. Kebiasaannya ini membuatku menjadi sedikit gelisah.
Dan sekarang aku ingin percaya, aku tidak ingin takut dengan fakta. Daripada terus bersembunyi dan mengelak dari fakta, lebih baik aku belajar menerima dan mencoba untuk merelakan.
Mungkin, semuanya tidak akan berjalan sesuai dengan rencana. Karena itulah aku tidak ingin menyusun rencana sendirian. Dan seiring dengan senyum ini, rintikan hujan terdengar lebih deras. Membantuku untuk merendam rasa sakit. Sama seperti sesuatu yang menenangkan hati, angin ini.
Dan ternyata, hipotesisku tentang hal yang ia lakukan adalah salah. Ketidakpekaanku tentang dia yang berada disekitarku pun menjadi penyebabnya. Ketidakpekaan yang membuatku menyakiti diri sendiri. Ternyata selama ini, orang yang aku kejar berada disampingku. Disampingku, berada dekat denganku. Kenapa aku baru menyadarinya? Masalah bodoh ini membodohiku.
Dan karenanya, hari ini aku senang. Aku bahagia. Bahkan pelangi kebahagiaan kulihat dengan jelas. Dan ternyata, pelangi itu tidak hanya memiliki tujuh warna. Sekarang yang dapat kulihat adalah pelangi memiliki dua puluh empat warna yang indah. Dan senyumnya terselip dan terlihat indah disana. Ya, orang itu.
Satu per satu pintu mimpi terbuka dan keluar dari balik persembunyiannya. Kunci rahasia ternyata membuka pintu yang penuh warna. Entahlah, semuanya tiba-tiba menjadi begitu indah. Ternyata, masuk kedalam pintu fakta dan kebenaran tidak seburuk apa yang aku pikirkan selama ini. Kukira akan sakit. Ya, awalnya memang banyak rintangan yang aku lalui sebelum menemukan pintu ini. Namun, lubang cahaya kecil yang kukejar selama ini benar-benar indah. Kebenarannya begitu menyejukkan.
Dan ternyata benar, ketika aku membuka satu persatu fakta. Aku menemukan fakta yang indah dan menyenangkan. Fakta yang tidak aku sangka. Bahkan, yang dulunya tidak ingin aku pikirkan karena memiliki resiko sakit dan merasa dikhianati. Tapi ternyata, aku salah. Semua ini sangat menyenangkan.
Ternyata benar, kami benar-benar mengincar cahaya yang sama. Melihat cahaya yang sama dan berjalan menuju cahaya yang sama.
Aku melihat sebuah pohon kecil. Aku melihat ia tersenyum dan melambai kearahku. Ia yang aku pikirkan selama ini. Memanggilku dan berjalan menuju padaku.
Kulihat iaberjalan sambil menggenggam pasir yang berwarna warni dan indah. Ada merah, kuning, hijau, hitam, putih, biru dan semua warna tampak menjadi satu dan indah. Sekarang, tinggal bagaimana aku bisa mengambil dan menjaganya.
Mengingat ini, aku kembali tersenyum. Melihat masa lalu yang ku lalui dengannya, dimana aku bertingkah menjadi dewasa dan kekanak-kanakan didepannya. Ya, walaupun ia melihatku bertindak kekanak-kanakan.
Selama ini, ia tersenyum melihatku dan ternyata ia juga kebingungan. Tindakan anehku yang bermakna lain, senjataku untuk memperlihatkan diri tanpa memperlihatkannya secara jelas. Ternyata, ia lebih dulu tahu. Bukankah aku terlihat bodoh? Bertingkah tidak terlihat namun ternyata terlihat jelas olehnya.
Ya, ia tahu maksudku bertingkah aneh padanya. Ternyata, kisah ini baru saja dimulai. Pena dan tinta abadi siap menulis semua hal kapan saja.
Pasti tidak akan berjalan sesuai dengan rencanakan? Tapi jika aku akan bahagia, jika kami bisa mengukir senyuman satu sama lain, jika kami percaya kalau hal baik akan datang dimasa depan tidak peduli rintangan apa yang akan terjadi, jika kami selalu merasa nyaman, aku rasa tidak apa-apa jika tidak berjalan sesuai rencana.
Dan menjadi sedikit berani, kurasa tidak apa-apa.

0 comments:

Post a Comment