Monday, 6 June 2016

CERPEN - HEMBUSAN ANGIN UNTUK KABUT HITAM



Hembusan Angin Untuk Kabut Hitam
Tasya Marliani

Aku melangkahkan kaki dengan semangat yang menghilang. Angin bisa saja menerbangkan kepasrahanku ini dengan hembusan kecil senyuman mereka, tapi sayang, kepasrahan ini tumbuh semakin besar layaknya sebuah pohon yang memiliki akar yang kuat, tertanam dihati kecil yang egois ini.


Angin berhembus disebelah barat, dedaunan kuning pun harus rela lepas dari pohon yang selama ini menjaganya. “Akhirnya, aku bisa bebas” bukan itu yang dikatakan daun “tumbuhlah, aku yang baru” katanya.

Awalnya aku melangkah dengan perlahan dan tidak menyebabkan satu desibel suarapun ada. Selembut dan sepelan mungkin, aku berusaha melangkah mendekati seorang insan yang sedang berjalan menuju sebuah cahaya yang terlihat amat kecil, yang juga menjadi incaranku selama ini.

Aku melihat kepalsuan dan kegundahan dibalik senyumnya itu. Tawaannya tidak sama seperti tawaan yang orang lakukan. Disana, terdapat tambahan perasa, yang membuatnya manis namun sebenarnya sama sekali tidak manis. Sesuatu yang terlihat seperti kabut hitam mengelilingi tubuhnya, membuatnya semakin gelap dan tak terlihat. Langkah kakinya juga pelan dan tak bersuara, membuatku menjadi semakin sulit mengejar dan mengikutinya dari belakang.

Akhirnya, aku pun harus berani mengambil resiko, secepat dan selebar mungkin langkah yang harus aku lakukan. Menyebabkan suara yang selama ini kupendam harus keluar dari tempat persembunyiannya. Segala cara yang baik aku lakukan untuk dapat berjalan disampingnya. 

“Ya, aku berhasil” kataku. Akhirnya, aku bisa berjalan disampingnya. Tentu saja aku merasa senang. Aku mengembangkan senyumku setiap hari. Aku mencoba untuk mengatakan “aku teman yang cukup baik”. tapi, aku mencari tahu lagi dan mengetahui bahwa kata-kata itu tidak berlaku untuknya. 

Lingkaran hitam ditubuhnya ternyata semakin meluas, ia menciptakan jarak yang jauh diantara aku dan dia. Aku memang berjalan disampingnya, namun dengan jarak yang sangat jauh. Tapi entah kenapa, aku masih bisa mendengarkan setiap nafasnya dan detakan jantungnya.

“kenapa? Kami amat jauh, tapi aku dapat mendengarkannya.” Tanyaku dan akhirnya aku hanya bisa menjawab ini dengan pasrah “Hah, mungkin angin memberikan ruang untukku mendengar. Ia mengirimkan gelombang suara dengan frekuensi yang bisa aku dengar” jawabku dan kembali pasrah.

Aku berhenti. Berhenti dalam usaha keras dengan tujuan sepele ini. Apa tujuanku? Tujuanku adalah untuk mengetahui siapa dia yang selama ini aku kenal. Aku memang tahu namanya, aku bisa mendengarnya, dan aku bahkan bisa menghitung helaan nafasnya dalam satu hari yang ia lewati dengan hanya melihat senyumnya saja, tapi, aku tetap tidak tahu siapa dia. Kabut hitam kelam yang menyelimutinya, tidak membiarkanku untuk mengetahui ia yang sebenarnya.

Tapi, setelah angin membisikkan kata hatiku padaku, aku sadar, aku tidak sedang berhenti, aku hanya kembali ke metode ku yang lama. Dimana aku melangkah, tanpa menimbulkan suara. Dan aku, tertipu oleh metodeku sendiri. “Ah, ternyata aku masih saja tetap melangkah. Bukankah aku benar benar bodoh? Bahkan, aku tidak tahu kalau aku sedang berjalan” ledekku.

Ternyata, tidak kenal lelah itu tidak ada. Aku semakin merasa lelah, aku merasa lelah untuk selalu melangkah. Aku ingin berhenti, tapi aku tidak bisa menghentikan langkah ini. Akhirnya, aku terjatuh dan tersenyum dalam tangis “akhirnya aku berhenti. Aku benar benar berhenti kali ini”.

Aku mengeluh pada angin yang menggerakkan dedaunan yang mengangguk padaku. Tapi, akhirnya mereka tetap bisa membuatku tersenyum padahal, aku sedang mengeluh. Apa maksud angin? Apa maksud gerakan dedaunan yang membuatku tersenyum? Apa maksudku tersenyum?

Sebuah tangan yang tidak kekar, lebih seperti tangan halus yang bercahaya daripada tanganku dan senyum itu. Aku melihat kilauan dimatanya. “Aku melihatnya dengan jelas” gumamku. Ia menarikku dari dudukku dan membuatku berdiri dengan kedua kakiku. Kembali menginjak tanah dan membawaku berjalan. Aku pasrah dan hanya bisa menyamakan langkahku dengan langkahnya yang tidak begitu besar dan terlihat sangat biasa.

Tapi tunggu, kemana kabut hitam kelam yang mengelilinginya? Kemana aura yang membuatku ketakutan? Apa ini benar benar dirinya? Aku melihatnya, aku melihatnya dengan jelas. Wajah itu, senyum itu, orang itu, dia, aku bisa melihatnya dengan jelas.

Tentu saja banyak pertanyaan yang aku tanyakan padanya, sekedar hanya untuk memastikan apakah itu benar-benar dia. Tapi, tidak apa-apa. Hanya berjalan disampingnya seperti ini, tidak apa-apa. Menggenggam tangannya erat, tidak apa-apa.

Tapi, apakah aku benar benar bisa menggenggam tangannya sampai ke tujuan? Atau ini semua hanya mimpi seorang aku? Apakah ia benar benar berada disampingku? Aku memikirkan pertanyaan-pertanyaan sulit dalam suatu kebahagiaan yang sangat aku nanti-nantikan. Bukankah aku ini bodoh? 

Ia tersenyum. Selama perjalan indah yang kami lakukan tadi, ia bersiul dan bernyanyi. Aku mendengar dan pun ikut bernyanyi. Pandangannya semakin lama semakin nyaman. “Aku benar benar tidak ingin bangun dari mimpi ini” Gumamku.

“Kau tidak sedang bermimpi. Aku benar benar disini” Ucapnya dan membuat angin yang lewat diantara kami semakin mengalun indah. Aku terkejut. Suaranya, benar benar mengalun indah. 

Setelah lama kami melangkah bersama-sama dengan menggenggam tangannya. Genggamannya lama kelamaan menjadi lemah. Akhirnya, terlepas ketika aku hendak menggenggamnya lebih kuat.

Kabut hitam kembali mulai menyelimuti dirinya. Ketakutanku juga semakin menguasai diriku saat ini. Tapi tunggu, ketakutan? Rasa itu? Aku tidak berani menggenggam tangannya. Aku tidak berani berbuat. Aku hanya berbuat dibelakang. Aku tidak berani memperlihatkan aku, aku yang sebenarnya.

Akhirnya, aku tahu jawabannya. Jawaban yang sangat sederhana, penyelesaian sederhana. Aku, aku membuang ketakutan. Aku mengusir ketakutan dan menghancurkan sarang ketakutan itu dari tubuhku. Aku tersenyum. Kabut yang menyelimutinya juga berangsur-angsur menghilang.

Aku bisa melihatnya lagi, kabut hitam yang mengelilingi tubuhnya menghilang. Angin pun mulai mengalun lagi dengan indah. Kami berjalan dimusim gugur,  dedaunan kuning pun mengucapkan selamat datang kepada kami. 

Ia diam, kami tidak mengeluarkan suara apapun. Aku berjalan disampingnya. Aku merasa senang. Walaupun ia tidak menggenggam tanganku aku tetap senang. Aku tidak perlu jatuh untuk mendapatkan genggaman darinya. Karena aku tau, ia akan mengganggapku seseorang yang menyusahkan jika aku selalu jatuh dan mendapatkan genggamannya.

Sekilas, kami bertatapan dan saling melemparkan senyum. Senyumnya yang tidak dipaksakan, senyum yang bahkan tidak bisa dimiliki orang lain, senyum yang begitu bercahaya. Walaupun singkat, aku masih bisa merasakan senyumnya itu. Aku perlahan mencabut duri yang ada ditubuhnya, durinya semakin jelas seiring kabut hitam yang menghilang. Aku akhirnya tahu, ia merasa kesakitan selama ini. Aku harap, aku bisa mencabut duri duri ini dengan sapuan halus dan senyum yang benar-benar nyata untuknya. 

Sekarang, aku tau cara untuk mendapatkan cahaya yang menjadi tujuan perjalanku itu, yaitu kebahagiaan. Bagaimana cara menciptakan kebahagiaan? Seperti hujan, aku menyiram benih kecil dan berharap akan tumbuh. Dan aku, sedang berusaha dan menunggu benih itu hingga ia tumbuh dewasa. Dalam kebahagiaan benih itu, aku merasakan kebahagiaan. Dia, apakah aku akan berhasil berjalan menuju tujuan, dengannya?

Kalau dulu ia yang menggenggam tanganku. Kali ini, aku akan memeluknya, tapi, aku menunggu saat yang tepat. Dimana, kabut hitam yang selalu datang menghantuinya, bisa aku musnahkan. Aku benar benar ingin membuatnya, bebas dari tusukan duri yang menyebabkan kesakitannya selama ini. 

Untuknya, aku menjadi aku yang sebenarnya. Untukku, ia menjadi ia yang sebenarnya.

0 comments:

Post a Comment